Bila masa tlah tiada, kereta kencana datang tiba-tiba. Airmata dalam luka tak merubah ceritanya, hanya hening dan berjuta tanya, dalam resah dalam pasrah. (Opick- Khusnul Khotimah)
SEBELUMNYA mendung bagiku teramat eksotis. Tak ada pelukis yang mampu meniru lukisan yang Alloh goreskan di langit tanpa batas-Nya. Tak ada satupun pelukis yang mampu memindahkan lukisan itu diatas kanvas, dimanapun dan sampai kapanpun. Namun kini mendung bagiku seperti sebuah ketakutan. Aku sekarang pobia akannya. Bukan mendung yang melahirkan pelangi megangumkan di sudut langit, tapi mendung di wajah semua sahabatku setelah mendengar kabar seseorang yang kami cintai berpulang keharibaan.
Tubuh tinggi dan tegapmu masih jelas terekam di memori ingatan otakku. Guratan wajah tampan sarat emosi dan ceriamu masih tersisa dikantung hatiku, namun kini tak ada lagi semua itu selain kenangan karena kau telah terbaring tenang diperaduan keabadian.
Sedang apa kau disana sahabatku. Dingin atawa panas yang kau rasakan, sempit atawa lapang yang datang, gelap atawa terang yang terbentang? aku hanya bisa mengirimkan sedekah Al-Fatihah teruntukmu sahabat dan saudaraku yang terbaring tenang diperaduan keabadian.
Kematianmu menyisakan tangis, namun airmata dalam luka tak mengubah cerita. Pernahkah sebelumnya kau merasakan kematian mengintai, merasa malaikat maut telah siap memberhentikan waktu dan mencabut seluruh kenikmatan dunia yang selama ini kau rasakan dan kau genggam. Pasti kau tak pernah terfikir, atau kau tak pernah mau memikirkannya. Kematian memang tak bisa ditakar dengan hitungan manusia, tak bisa ditakar dengan kalender apapun.
Sahabatku, pernahkah kau dahulu berfikir meninggal di hari tua? Aku rasa iya. Tapi pernahkah kau memikirkan menjadi sangat tua, dipenuhi rasa cinta, tapi bosan hidup dan sialnya tak mati-mati? Waktu mengalir tanpa ada sesuatu yang dinanti, sementara waktu lainya menguap dan memuai perlahan-lahan dengan kenangan masa lalu yang kian membeku. Waktulah yang berkuasa dan menenggelamkan manusia.
“Di saat ajal kan datang menjelang, Malaikat Izrail mainkan peran, nyawa tercabut tubuh pun meregang, Allohuakbar janji-Mu tlah datang,” sebaris syair dari Snada mengingatkanku betapa dahsyatnya kematian.
Di saat umat muslim dunia dibodohi orang Yahudi dengan kecanggihan film ‘2012’ yang katanya menggambarkan kiamat, aku mendengar kabar tenang ‘kiamat’ kecilmu. Detik waktu terus memburu, seperti sebuah busur dengan radar canggih yang siap menghentikan aliran nafas.
“Doakan dia dengan sedekah Fatihah le’, insya Alloh kalau kowe tulus doa itu akan sampai dan menjadi peringan dosa kawanmu,” nasihat sejuk bundaku saat aku mengabarkan kematianmu. Jujur tangisku tak mampu kubendung, meski dengan sekuat tenaga aku menahan semuanya.
Tak ada lagi yang bisa aku haturkan. Tak ada lagi yang bisa aku berikan selain limpahan doa dan sejumput harapan. Takkan aku hapus nama dan nomormu dari HP-ku, meski tak lagi ada jawabawn dari ujung sana ketika ku coba untuk menghubungimu.
Ku putar kembali dentingan yang mengingatkanmu.
Bila Waktu Tlah Berakhir - Opick
Bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara
bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu
bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu
dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya
bila waktu tlah memenggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu telah terhenti
teman sejati tingallah sepi
20 November 2009, teruntuk Teman, Sahabat dan Saudaraku
Bayu Sanjaya Putra --- Selamat jalan, senyum dan kenanganmu akan abadi di sisa waktuku.
Comments
Post a Comment